Tatkala Presiden SBY Berkantor di Yogya

Presiden memantau langsung tanggap darurat karena krisis Merapi tak bisa diprediksi.

VIVAnews – Letusan Gunung Merapi sejak 26 Oktober lalu, membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan berkantor di Yogyakarta. Presiden SBY turun tangan memantau proses tanggap darurat akibat ketidakpastian ancaman letusan gunung berapi itu.

Sampai Minggu 7 November 2010, Merapi masih terus bergemuruh, menyemburkan awan panas serta menebarkan debu vulkanik.

Yudhoyono berangkat pada Jumat, 5 November sore dengan menggunakan pesawat menuju Semarang. Karena abu vulkanik begitu pekat mengambang di udara Yogyakarta, maka rombongan presiden bermalam di Sekolah Akademi Militer di Magelang.

Esoknya, Sabtu 6 November 2010, Yudhoyono dan rombongan menuju Yogyakarta. Abu vulkanik masih menutupi jalan di Muntilan, sehingga rombongan harus berputar melalui jalur Purworejo. Situasi itu dijadikan SBY dan menteri meninjau langsung abu vulkanik Merapi yang merambat hingga Purworejo.

Ketika turun bergegas ke Istana Gedung Agung Yogyakarta, Presiden pun hanya beristirahat sebentar. Dia langsung meminta pemaparan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sejumlah menteri, seperti Menteri Koordinator (Menko) Kesejahteraan Rakyat, Menko Perekonomian, Menko Politik Hukum dan Keamanan, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Menteri Pertanian.

Pemaparan itu juga dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta Panglima TNI dan Kapolri.

Staf Khusus Presiden Bidang Informasi Heru Lelono mengungkapkan alasan SBY sampai berkantor di Yogyakarta. “Presiden ingin meninjau langsung penanganan situasi tanggap darurat di Yogyakarta dalam bencana meletusnya Gunung Merapi.”

Jumat, pasca-letusan hebat Merapi, SBY memang sudah menyatakan keinginannya berkantor di dekat lokasi pengungsi karena Merapi makin tak pasti. Saat itu, Presiden juga mengeluarkan sejumlah instruksi baru, salah satunya komando penanganan bencana alam Merapi ada di tangan Kepala BNPB.

Di hari keduanya di Yogyakarta, Yudhoyono mengunjungi Kantor BNPB dan Kantor Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) di Yogyakarta. Ia juga mengunjungi pengungsi di Pos Pengungsian Utama Stadion Maguwoharjo-Sleman.

Dalam pemaparan Sabtu lalu, SBY meminta agar pemerintah pusat dan daerah terus berkoordinasi, khususnya BNPB agar dapat melakukan kegiatan tanggap darurat. Yudhoyono juga meminta agar penanganan ini dilakukan secara cermat dan tepat.

“Memang saya memantau banyak komentar, kritik, tapi kritik itu tentunya akan menjadi masukan untuk kita bisa berkontribusi sebaik mungkin menanggulangi bencana ini. Diperlukan keputusan yang cepat, karena dalam situasi ini pengambilan keputusan di lapangan penting, khususnya keadaan kritis” kata SBY.

Bahkan SBY meminta agar bawahan jangan sering ketemu dirinya jika sedang bertugas, dan  lebih baik bertugas di lapangan. “Saya bisa mandiri dengan tim saya. Dan saya berharap semua pejabat bisa menyelesaikan tugasnya dan harus tetap fokus untuk menangani bencana” tegasnya.

Berkantornya SBY di Yogyakarta tak urung membuat Biro Rumah Tangga sedikit kewalahan, terutama menyediakan logistik presiden, dan staf menteri yang ikut. “Cukup merepotkan karena situasinya mendadak. Tapi kami siap memenuhi kebutuhan dari rombongan,” kata salah satu staf Rumah Tangga Presiden yang tak mau disebutkan namanya.

Tidak hanya itu, karena kapasitas ruangan di Gedung Agung yang kurang, membuat beberapa staf dan humas harus menginap di hotel sekitar Gedung Agung. Menteri yang ikut rombongan menginap di Wisma Negara Gedung Agung.

Merapi masih misterius

Saat berkunjung ke kantor BPPTK Yogyakarta, Presiden SBY menanyakan kondisi terkini Gunung Merapi. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM R Sukhiyar menjelaskan bahwa erupsi Gunung Merapi masih terus aktif sejak letusan besar Jumat dinihari, 5 November lalu. Namun, kekuatan erupsi yang terjadi saat ini lebih kecil atau setengah dari erupsi 5 November lalu.

Meski begitu, pertanyaan apakah Merapi akan mengeluarkan letusan hebat seperti 5 November lalu belum bisa terjawab.

Sukhiyar pun menilai luncuran awan panas itu adakah yang terpanjang sejak 1872 silam. “Luncuran awan panas itu (5 November 2010) mencapai 15 kilometer, dibanding sebelumnya mencapai 11-12 kilometer (pada 1872),” kata dia.

Menurut Sukhiyar, potensi terjadinya awan panas Merapi masih cukup tinggi di 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Namun karena kawah Merapi mengarah ke selatan, sehingga paling rawan mengarah ke Kali Gendol atau bermuara di Kali Code.

Awan panas pada 5 November lalu menewaskan sedikitnya 88 orang. Jumlah ini kemungkinan bertambah. Penyisiran di sejumlah desa dilaporkan masih tertunda akibat medan yang masih panas oleh abu vulkanik muntahan Merapi.(np)

• VIVAnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s