Merapi Meletus, Malioboro Lesu

Turis lokal juga terus berkurang. Belum lagi debu vulkanik yang cukup tebal.

VIVAnews – Keganasan Gunung Merapi tidak hanya menimbulkan duka mendalam bagi warga yang menjadi korban. Bahkan perekonomian warga Jogyakarta juga terkena imbasnya.

“Sejak letusan dahsyat merapi Jumat dini hari lalu, pembeli yang umumnya wisata dosmestik menurun drastis,” kata Siswandi (37) pedagang pakaian batik yang sudah berjualan 10 tahun di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Senin 8 November 2010.

Dia mengakui omset keuntungannya saat pertama kali Merapi meletus, 26 Oktober lalu, hingga saat ini terus menurun. “Biasanya sehari bisa dapat keuntungan Rp1 juta, saat ini hanya rata-rata hanya Rp 200 ribu. Itu sudah paling maksimal,” katanya saat berbincang dengan VIVAnews.com.

Pria asal Bantul itu mengaku, lesunya pendapatan para pedagang karena dipengaruhi adanya letusan gunung Merapi yang telah menimbulkan banyak korban jiwa. Turis lokal juga terus berkurang. Belum lagi debu vulkanik yang cukup tebal mengguyur kawasan Malioboro.

Ia pun berharap agar gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta itu segera kembali normal. “Merapi cukup memeras air mata warga Jogja dan Jawa tengah, bahkan pendapatan warga yang berprofesi pedagang terus menurun,” harap ayah tiga orang anak itu.

Hal senada juga diungkapkan Triyono (35) pedagang kerajinan anyaman di Pasar Beringharjo. “Jumlah pembeli sedikit sekali. Jangankan turis domestik, warga Jogja yang pendatang saja semuanya pada mengungsi ke luar dari sini karena ketakutan,” katanya.

Berdasarkan pantauan VIVAnews.com, aktivitas penjualan batik dan kerajinan tangan di jalan Malioboro terlihat tak bergairah. Tidak hanya itu, beberapa kos-kosan di Jogya juga ditinggalkan para mahasiswa yang umumnya merupakan pendatang dari berbagai daerah.

Eksodus besar-besaran pendatang yang menetap di Jogja masih terlihat di Bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu, dan Terminal Bus Jombor serta Umbulharjo. Mereka memilih mengungsi karena khawatir akan aktivitas Gunung Merapi yang belum juga berhenti

Kerugian

Kerugian para petani akibat dampak erupsi Merapi sejak 26 Oktober 2010 hingga kini belum dapat dihitung. Pemerintah kesulitan menghitung berapa luas area yang rusak.

“Tidak mungkin petugas kita masuk ke zona 20 kilometer untuk hanya sekedar menghitung kerugian di bidang pertanian, sehingga data kerugian belum kita miliki,” kata Menteri Pertanian Suswono di gedung BNPB, Yogyakarta, Senin, 8 November 2010

Dalam kondisi darurat saat ini yang diutamakan adalah nyawa manusia termasuk juga nyawa ternak seperti sapi. Sehingga langkah utama dari Kementerian Pertanian adalah menyelamatkan nyawa ternak.

Khususnya sapi karena merupakan mata pencaharian pagi masyarakat yang berada di lereng merapi. “Menyelamatkan nyawa hewan juga pahala juga tinggi, tak kalah ketika menyelamatkan nyawa manusia,” kata menteri dari PKS ini.

Kementerian Pertanian berjanji jika ada lahan pertanian yang rusak akibat erupsi merapi maka akan mendapatkan ganti. Prosedur penggantian melalui berbagai program milik Kementerian Pertanian seperti pemberian bibit gratis dan lainnya.

“Namun pemberian bantuan itu setelah masa tanggap dan masa recovery. Yang utama saat ini adalah nyawa manusia dan nyawa hewan yang menjadi mata pencaharian penduduk. Karena jika saat ini dibantu juga tidak ada gunanya karena penduduk masih mengungsi,” ujarnya lagi.

(Laporan: Juna Sunbawa l DIY, umi)

• VIVAnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s