1.000 Motor Kawal Ambulan Mbah Maridjan

Pangeran Keraton Yogyakarta ikut mengantarkan jenazah Mbah Maridjan. Ia abdi dalem setia.

VIVAnews — Sebelum dibaringkan selamanya di pemakaman keluarga di Srumen, Glagaharjo, Cangkringan, jenazah Mbah Maridjan disalatkan di Masjid Kampus Universitas Islam Indonesia (UII).

Dalam perjalanan dari RS Sardjito ke kampus UII di kaki Merapi, ambulan yang mengangkut Mbah Maridjan dikawal sekitar 1.000 motor.

Masyarakat Jogja terlihat berdiri di sepanjang jalan, untuk melepas juru kunci Gunung Merapi yang populer itu.

Sekitar pukul 10.00 WIB, peti mati Mbah Maridjan tiba di Kampus Terpadu UII. Tak hanya disambut para civitas akademika, sang kuncen juga disambut para pangeran Keraton Yogyakarta.

Ada adik-adik Sultan Hamengkubuwono X — GBPH Yudhaningrat,  GBPH Cakraningrat, dan GBPH Adi Suryo.

“Nanti di pemakaman, kalau tidak Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang hadir,” kata Yudhaningrat, Kamis 28 Oktober 2010.

Bagi keraton Jogja, Maridjan adalah abdi dalem yang setia. “Ia pribadi mulia dan bertanggung jawab. Ia rela mengabdi sebagai juru kunci hingga akhir hayat,” tambah dia.

Mbah Maridjan wafat pada Selasa 26 Oktober 2010 petang — saat awan panas Merapi ‘wedhus  gembel’ menerjang Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan,  Yogyakarta.

‘Amuk’ Merapi menghancurkan segala sesuatu di Kinahrejo.

Pada Rabu pagi 27 Oktober 2010 pagi, pria yang mengabdi di Merapi sejak 1982 itu ditemukan  tewas di rumahnya. Dalam posisi bersujud.

Laporan: Fajar Sodiq| Yogyakarta

• VIVAnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s