AS Sindir China ‘Kecanduan’ Ekspor

Jakarta – AS menyindir China dengan menyebutkan adanya negara yang telah ‘kecanduan’ melakukan ekspor tanpa memikirkan kondisi ketidakseimbangan perdagangan global. Negara yang kecanduan itu dituding AS secara sengaja membuat mata uangnya melemah.

Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mendesak negara-negara berkembang untuk membiarkan mata uang mereka menguat dan meningkatkan permintaan dalam negerinya, sehingga kondisi perdagangan global bisa seimbang.

Dalam pertemuan negara-negara G-20 di Korea Selatan, Geithner mengatakan, yang dibutuhkan dunia saat ini adalah penguatan mata uang secara bertahap pada negara-negara yang surplus perdagangannya tinggi.

Tanpa menyebut nama China, Geithner mengatakan negara-ngara tertentu harus mengurangi ketergantungan mereka pada ekspor dan fokus pada peningkatan konsumsi domestiknya.

“Jika ingin perekonomian tumbuh kuat dan berkesinambungan di masa depan, kita harus bekerja lebih keras untuk menciptakan keseimbangan dalam pertumbuhan itu seiring masa pemulihan pascakrisis,” ujar Geithner sepertri dikutip AFP, Sabtu (23/10/2010).

Saat ini memang, China mengalami surplus perdagangan yang besar. Akibat ekspor yang yang nilainya cukup tinggi ketimbang impornya. Sementara itu, defisit neraca perdagangan di AS terus membengkak dan defisit perdagangan Uni Eropa cenderung tidak mengalami perbaikan yang berarti.

Ketidakseimbangan ini membuat AS mengkritisi kebijakan nilai tukar Yuan oleh bank sentral China. AS juga telah melancarkan kritikannya karena China dinilai tidak serius dalam menahan pelemahan mata uangnya sehingga dianggap merugikan ekspor AS. Bahkan Kongres AS telah mengeluarkan UU yang memungkinkan AS memberikan sanksi kepada China jika tak juga mengubah kebijakannya.

Meskipun begitu, dalam pertemuan G-20, Geithner mengatakan AS tetap akan menjalankan kebijakan penguatan nilai dolar. Meskipun saat ini banyak negara yang berusaha keras menahan laju penguatan mata uangnya.

Geithner mengatakan, AS mempunyai tanggung jawab khusus untuk menguatkan dolar karena mata uang tersebut menjadi mata uang cadangan devisa hampir di seluruh negara. Saat ini banyak negara berkembang yang mencurigai AS telah sengaja membiarkan nilai dolar terkapar, guna merusak daya saing ekspor negara berkembang.

Isu perang mata uang semakin memanas akhir-akhir ini, setelah sejumlah bank sentral negara-negara maju berlomba-lomba melakukan intervensi untuk melemahkan mata uangnya. Kebijakan itu dilakukan karena penguatan mata uang yang tajam dikhawatirkan bisa menggerus ekspor.

sumber:detiknews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s